TANGIS DINA DI HARI LEBARAN
Hari raya idul fithri yang dinanti, sebentar lagi. senyuman yang mengembang dari anak-anak dilingkungan rumah mulai nampak. Terasa menggembirakan obrolan ringan mereka terdengar, " eh, Nita lebaran sebentar lagi lho. Kamu udah punya baju baru belum?" tanya Nadia "Aku, udah dong kemarin ibu membeli dua stel buatku. sama sendal barunya juga gak ketinggalan. Ibu langsung beli, soalnya kalau beli pas deket hari lebarannya toko-toko di pasar penuh kata ibu. jadi sekalian beli deh. Kalau kamu gimana ca?" Nita meneruskan rantai pertanyaàn ke teman yang duduk di sebelahnya, Icha. "Oh, kalau aku sendalnya yang dua, baju cukup satu aja karena masih banyak yang bagus di lemariku". Terus kalian suka dapet berapa banyak uang kalau hari lebaran?" Icha balik bertanya pada kedua temannya, Nadia dan Nita. "Aku mah banyak kadang sampai ga kehitung. gak tau lah cara ngitungnya biar mama aku aja yang hitungin. Hehehe..." jawab Nadia cengengesan. Seperti Nadia, Nita yang masih duduk di kelas satu SD itu juga sama belum terlalu pandai menghitung kalau uangnya sangat banyak. "Benar itu cha, aku juga pusing menghitungnya kalau uangnya terlalu banyak. Ga perlu di hitung asal kita bisa beli es krim dan cokelat kesukaan kita ya Nad!" "iya" ujar Nadia. "Em...enak tau.Hhaahaha..." timpal Nita diikuti tawa keceriaan yang nampak diwajah mereka. Seolah-olah uang yang mereka bayangkan masih ada di tangan mereka. Dan seolah, kelezatan es krim yang mereka ceritakan masih mereka nikmati.
Namun, apa kabarnya tentang Dina yang sedari tadi duduk termangu di teras rumahnya?, sambil memerhatikan celotehan mereka yang dipenuhi tawa bahagia. Dina hanya menatap dengan wajah sendu serta matà yang berkaca-kaca. Ada air mata yang terbendung di sana. Mendengar kegembiraan Nadia, Nita dan Icha, Dina menunduk dalam. Tak mau ikut dalam obrolan. Hatinya telah larut dalam kesedihan yang dirasakan. Ayahnya yang ia sayangi telah pergi meninggalkan. Di awal bulan Ramadhan. Di hari keempat, di waktu ia tengah bergembira menyambut bulan yang dimulyakan. Kabar menyedihkan itu datang ketika adzan ashar berkumandang. Bahkan sesaat sebelum menjelang waktu berbuka. Ketika adzan maghrib tiba, Perut Dina rasanya sudah tak terasa lapar, padahal tadi siang, ia memesan pada ibu agar dibikinkan sup buah kesukaannya. Tapi, setelah mangkuk kecil berisi sup buah itu ada di depan Dina, makanan favorit itu sudah tak menggiurkan lagi. Keinginan untuk melahap semua masakan ibu tiba-tiba hilang setelah mendengar ayahnya meninggal. Hanya tangisan yang hadir kala itu, sambil sesekali memanggil ayahnya yang sudah tak berdaya dihadapannya. Jerit tangisnya pecah membuat orang-orang yang hadir di rumah Dina merasa iba. Suasana semakin haru. Kegetiran menggetarkan hati mereka yangmelihat kejadian itu. Mereka tak berani mengeluarkan kata-kata untuk mengungkapkan kepedihan keluarga yang ditinggalkan saat itu, Hanya bisa berucap seperti apa yang dikatakan oleh Nenek, "Sudah sayang, biarkan ayahmu tenang. Dina yang sabar ya sayang, kan, masih nenek dan ibu disini...." kata nenek sambil memeluk Dina. Nenek pun tak kuasa menahan tangis. Kata 'sabar' banyak Dina terima dari mereka yang datang menjenguk. Meski pun tak faham betul apa maknanya, Dina mengerti itu bagian dari simpati mereka. Sementara ibunya masih terkulay lemas di kamarnya. Tak sadarkan diri begitu mendapat berita duka itu. Terlihat beberapa sanak saudara yang menemani. "Ini, sup buah kesukaan Dina. Ayo dimakan, Dina kan belum berbuka....enak lho ini..." bujuk nenek.
Itulah sebabnya mengapa Dina tak seceria seperti Nadia dan kawan-kawan hari ini.
Sesekali Dina mendekat ke arah Nadia, Nita dan Icha. Dibarengi rasa penasaran, ia berjinjit mengangkat tubuhnya agar lebih tinggi dari pagar teras rumahnya. Sepertinya, ia ingin sekali bergabung bersama mereka. Namun ia tk berani karena ia sadar, dirinya tak memiliki topik pembicaraan yang sama. Baginya, kehilangan ayah berarti ia tak akan bisa membeli baju lebaran yang bagus seperti yang mereka ceritakan. Ia tak berani berharap dapat dibelikan sendal baru oleh Ibunya yang hanya bekerja membantu mencucikan baju di rumah tetangga dekat rumah. "Heuh...." Dina menghela nafas. Ia merasa berbeda dengan mereka. Dina merasa tidak nyaman dengan perbincangan mereka yang mungkin tak sengaja menyinggung perasaannya.
"Kalian langsung mudik ke rumah nenek gak setelah shalat id?". pertanyaan itu terdengar lagi. Nadia dan kedua temannya, masih saja asyik mengobrol tanpa tahu ada orang yang diam-diam memerhatikan. Mereka memang memilih shalat di kota setelah itu biasanya makan bareng di rumah, bersalaman ke rumah tetangga bersama orang tua mereka, Sambil mengantri menunggu giliran menerima uang dari tetangga yang kebetulan ingin berbagi kebahagiaan. Kalau sudah begitu, kantong kecil yang mereka bawa cukup penuh dijejali uang yang masih baru. Bukan main, Riangnya mereka sambil menghitung dan merapikan uang yang sudah mereka terima.
Kali ini, Dina tak tahan menyimak perbincangan mereka. Ia pun berlari ke dalam rumahnya. Meneriaki ibunya yang saat itu sedang melipat pakaian yang menggunung. "Ibu....kapan Dina beli baju bagus seperti teman-teman bu?" pintanya sambil menangis. Ibu menarik tangan Dina lembut. "Dina, uang yang ibu miliki masih belum banyak sayang" " Tuh, kan ibu sudah punya uangnya, kenapa gak beli sekarng sih bu, lebaran kan sebentar lagi?" kata Dina memotong pembicaraan ibu. Ibunya yang faham keinginan Dina, melanjutkan bicara hendak membujuk Dina, "Begini nak, uang ibu baru sedikit. kalau Dina bisa sabar, uang ibu bertambah dan dapat membeli baju bagus seperti yang Dina inginkan. Kamu suka baju yang kayak princess itu, kan?" bujukan ibu berhasil menghentikan tangisan Dina, meski sebenarnya ia tak tahu dirinya mampu atau tidak membeli baju princess yang mahal itu.. Sambil merogoh sakunya, ia berjanji untuk lebih keras bekerja demi menyenangkan buah hatinya. Biarlah berbagai keperluannya tak semua terpenuhi, asalkan ia bisa melihat senyuman di wajah mungil buah hatinya....demikian bisik hatinya.
Begitulah, kasih sayang seorang ibu selalu hadir meaki pun dirinya dalam keadaan terhimpit.
Note :
- Bersyukurlah kita selagi Allah masih memberi keleluasaan dalam hidup.
- Maaf jika ada kesaamaan nama.
- Kritik dan saran sangat saya harapkan
Salam ukhuwah
Amih Shila
Bandung, 2 Juni 2019
#Day(27)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Namun, apa kabarnya tentang Dina yang sedari tadi duduk termangu di teras rumahnya?, sambil memerhatikan celotehan mereka yang dipenuhi tawa bahagia. Dina hanya menatap dengan wajah sendu serta matà yang berkaca-kaca. Ada air mata yang terbendung di sana. Mendengar kegembiraan Nadia, Nita dan Icha, Dina menunduk dalam. Tak mau ikut dalam obrolan. Hatinya telah larut dalam kesedihan yang dirasakan. Ayahnya yang ia sayangi telah pergi meninggalkan. Di awal bulan Ramadhan. Di hari keempat, di waktu ia tengah bergembira menyambut bulan yang dimulyakan. Kabar menyedihkan itu datang ketika adzan ashar berkumandang. Bahkan sesaat sebelum menjelang waktu berbuka. Ketika adzan maghrib tiba, Perut Dina rasanya sudah tak terasa lapar, padahal tadi siang, ia memesan pada ibu agar dibikinkan sup buah kesukaannya. Tapi, setelah mangkuk kecil berisi sup buah itu ada di depan Dina, makanan favorit itu sudah tak menggiurkan lagi. Keinginan untuk melahap semua masakan ibu tiba-tiba hilang setelah mendengar ayahnya meninggal. Hanya tangisan yang hadir kala itu, sambil sesekali memanggil ayahnya yang sudah tak berdaya dihadapannya. Jerit tangisnya pecah membuat orang-orang yang hadir di rumah Dina merasa iba. Suasana semakin haru. Kegetiran menggetarkan hati mereka yangmelihat kejadian itu. Mereka tak berani mengeluarkan kata-kata untuk mengungkapkan kepedihan keluarga yang ditinggalkan saat itu, Hanya bisa berucap seperti apa yang dikatakan oleh Nenek, "Sudah sayang, biarkan ayahmu tenang. Dina yang sabar ya sayang, kan, masih nenek dan ibu disini...." kata nenek sambil memeluk Dina. Nenek pun tak kuasa menahan tangis. Kata 'sabar' banyak Dina terima dari mereka yang datang menjenguk. Meski pun tak faham betul apa maknanya, Dina mengerti itu bagian dari simpati mereka. Sementara ibunya masih terkulay lemas di kamarnya. Tak sadarkan diri begitu mendapat berita duka itu. Terlihat beberapa sanak saudara yang menemani. "Ini, sup buah kesukaan Dina. Ayo dimakan, Dina kan belum berbuka....enak lho ini..." bujuk nenek.
Itulah sebabnya mengapa Dina tak seceria seperti Nadia dan kawan-kawan hari ini.
Sesekali Dina mendekat ke arah Nadia, Nita dan Icha. Dibarengi rasa penasaran, ia berjinjit mengangkat tubuhnya agar lebih tinggi dari pagar teras rumahnya. Sepertinya, ia ingin sekali bergabung bersama mereka. Namun ia tk berani karena ia sadar, dirinya tak memiliki topik pembicaraan yang sama. Baginya, kehilangan ayah berarti ia tak akan bisa membeli baju lebaran yang bagus seperti yang mereka ceritakan. Ia tak berani berharap dapat dibelikan sendal baru oleh Ibunya yang hanya bekerja membantu mencucikan baju di rumah tetangga dekat rumah. "Heuh...." Dina menghela nafas. Ia merasa berbeda dengan mereka. Dina merasa tidak nyaman dengan perbincangan mereka yang mungkin tak sengaja menyinggung perasaannya.
"Kalian langsung mudik ke rumah nenek gak setelah shalat id?". pertanyaan itu terdengar lagi. Nadia dan kedua temannya, masih saja asyik mengobrol tanpa tahu ada orang yang diam-diam memerhatikan. Mereka memang memilih shalat di kota setelah itu biasanya makan bareng di rumah, bersalaman ke rumah tetangga bersama orang tua mereka, Sambil mengantri menunggu giliran menerima uang dari tetangga yang kebetulan ingin berbagi kebahagiaan. Kalau sudah begitu, kantong kecil yang mereka bawa cukup penuh dijejali uang yang masih baru. Bukan main, Riangnya mereka sambil menghitung dan merapikan uang yang sudah mereka terima.
Kali ini, Dina tak tahan menyimak perbincangan mereka. Ia pun berlari ke dalam rumahnya. Meneriaki ibunya yang saat itu sedang melipat pakaian yang menggunung. "Ibu....kapan Dina beli baju bagus seperti teman-teman bu?" pintanya sambil menangis. Ibu menarik tangan Dina lembut. "Dina, uang yang ibu miliki masih belum banyak sayang" " Tuh, kan ibu sudah punya uangnya, kenapa gak beli sekarng sih bu, lebaran kan sebentar lagi?" kata Dina memotong pembicaraan ibu. Ibunya yang faham keinginan Dina, melanjutkan bicara hendak membujuk Dina, "Begini nak, uang ibu baru sedikit. kalau Dina bisa sabar, uang ibu bertambah dan dapat membeli baju bagus seperti yang Dina inginkan. Kamu suka baju yang kayak princess itu, kan?" bujukan ibu berhasil menghentikan tangisan Dina, meski sebenarnya ia tak tahu dirinya mampu atau tidak membeli baju princess yang mahal itu.. Sambil merogoh sakunya, ia berjanji untuk lebih keras bekerja demi menyenangkan buah hatinya. Biarlah berbagai keperluannya tak semua terpenuhi, asalkan ia bisa melihat senyuman di wajah mungil buah hatinya....demikian bisik hatinya.
Begitulah, kasih sayang seorang ibu selalu hadir meaki pun dirinya dalam keadaan terhimpit.
Note :
- Bersyukurlah kita selagi Allah masih memberi keleluasaan dalam hidup.
- Maaf jika ada kesaamaan nama.
- Kritik dan saran sangat saya harapkan
Salam ukhuwah
Amih Shila
Bandung, 2 Juni 2019
#Day(27)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Komentar
Posting Komentar