PUASA=UJIAN KEIMANAN
Apa kabar sahabat?
Jika pada tulisan sebelumnya dipaparkan mengenai ujian dalam tangga kehidupan. Maka dalam artikel kali ini saya akan menyinggung ibadah puasa sebagai media untuk menguji seberapa tebal keberadaan iman seseorang.
Disebut sebagai ujian keimanan, karena terlalu banyak orang yang tidak mau melakukan kewajiban ibadah yang satu ini. Kendati Allah swt. telah menjelaskan keutamaan dari ibadah puasa melalui sabda Rasul-Nya, dan meski pun Allah swt. telah memberikan banyak keutamaan di dalamnya, mereka yang melanggar, tetap tidak mengindahkan berbagai hadiah yang Allah swt. berikan berupa keutamaan puasa dan keutamaan di bulan Ramadhan.
Keistimewaan tersebut hanya bisa di rasakan oleh mereka, yang memiliki ketebalan iman di dalam dadanya. Dan karenanya, Allah swt. mengawali perintah puasa dengan seruan "Hai orang-orang yang beriman". Seperti ayat berikut :
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (QS. al-Baqarah : 183 ).
Dan mari kita lihat ujung dari firman-Nya, "Agar kamu bertakwa". Di sinilah mengapa saya sebut puasa sebagai sarana yang Allah swt hadirkan untuk menguji keimanan. Dan tersirat ada tujuan yang diharapkan dengan kita melakukan ibadah yang diperintahkan (puasa ). Oleh karena itu, hanya orang-orang yang memiliki iman yang kokoh lah yang akan tampil sebagai pemenang. Siap dalam menjalankan perintahnya, berarti harus bersabar menempuh berbagai syarat yang telah ditentukan sehingga ia layak di sebut sebagai pemenang. Dalam hal ini, ketakwaan.
Dan untuk meraih tujuan yang diharapkan, yakni ketakwaan. Tidaklah hanya berani sekedar menahan haus dan lapar. Namun, puasa yang dilakukan haruslah disertai dengan keimanan dan mengharap keridhaan dari-Nya. serta serangkaian ketentuan yang telah Allah swt. tetapkan.
Janganlah kita tergoda oleh mereka yang dengan bangga menunjukkan pelanggaran di siang hari bulan Ramadhan, dengan pamer mempertunjukkan berbagai kenikmatan makanan yang ia santap. Lantaran sebenarnya, ia tidaklah merasa terpanggil dengan kalimat yang Allah swt. serukan ( yakni, "hai orang-orang yang beriman" ). Jangan tergoda oleh mereka yang pandai dan ramai menggosipkan keburukan orang lain. Karena sejatinya, itu merupakan sebuah kegagalan dalam meraih ketakwaan.
Ini kiranya salah satu dari anak tangga kehidupan kita. Allah swt. menguji kita agar derajat kita setingkat lebih tinggi dihadapan-Nya.
Semoga Allah swt. berkenan menyampaikan kita kepada ketakwaan dengan berbagai amalan yang kita perbuat di bulan mulia ini. Aamiin
Note : Kritik dan saran sangat saya harapkan.
Salam Ukhuwah,
Amih Shila
Bandung, 27 Mei 2019.
#Day(22)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Jika pada tulisan sebelumnya dipaparkan mengenai ujian dalam tangga kehidupan. Maka dalam artikel kali ini saya akan menyinggung ibadah puasa sebagai media untuk menguji seberapa tebal keberadaan iman seseorang.
Disebut sebagai ujian keimanan, karena terlalu banyak orang yang tidak mau melakukan kewajiban ibadah yang satu ini. Kendati Allah swt. telah menjelaskan keutamaan dari ibadah puasa melalui sabda Rasul-Nya, dan meski pun Allah swt. telah memberikan banyak keutamaan di dalamnya, mereka yang melanggar, tetap tidak mengindahkan berbagai hadiah yang Allah swt. berikan berupa keutamaan puasa dan keutamaan di bulan Ramadhan.
Keistimewaan tersebut hanya bisa di rasakan oleh mereka, yang memiliki ketebalan iman di dalam dadanya. Dan karenanya, Allah swt. mengawali perintah puasa dengan seruan "Hai orang-orang yang beriman". Seperti ayat berikut :
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (QS. al-Baqarah : 183 ).
Dan mari kita lihat ujung dari firman-Nya, "Agar kamu bertakwa". Di sinilah mengapa saya sebut puasa sebagai sarana yang Allah swt hadirkan untuk menguji keimanan. Dan tersirat ada tujuan yang diharapkan dengan kita melakukan ibadah yang diperintahkan (puasa ). Oleh karena itu, hanya orang-orang yang memiliki iman yang kokoh lah yang akan tampil sebagai pemenang. Siap dalam menjalankan perintahnya, berarti harus bersabar menempuh berbagai syarat yang telah ditentukan sehingga ia layak di sebut sebagai pemenang. Dalam hal ini, ketakwaan.
Dan untuk meraih tujuan yang diharapkan, yakni ketakwaan. Tidaklah hanya berani sekedar menahan haus dan lapar. Namun, puasa yang dilakukan haruslah disertai dengan keimanan dan mengharap keridhaan dari-Nya. serta serangkaian ketentuan yang telah Allah swt. tetapkan.
Janganlah kita tergoda oleh mereka yang dengan bangga menunjukkan pelanggaran di siang hari bulan Ramadhan, dengan pamer mempertunjukkan berbagai kenikmatan makanan yang ia santap. Lantaran sebenarnya, ia tidaklah merasa terpanggil dengan kalimat yang Allah swt. serukan ( yakni, "hai orang-orang yang beriman" ). Jangan tergoda oleh mereka yang pandai dan ramai menggosipkan keburukan orang lain. Karena sejatinya, itu merupakan sebuah kegagalan dalam meraih ketakwaan.
Ini kiranya salah satu dari anak tangga kehidupan kita. Allah swt. menguji kita agar derajat kita setingkat lebih tinggi dihadapan-Nya.
Semoga Allah swt. berkenan menyampaikan kita kepada ketakwaan dengan berbagai amalan yang kita perbuat di bulan mulia ini. Aamiin
Note : Kritik dan saran sangat saya harapkan.
Salam Ukhuwah,
Amih Shila
Bandung, 27 Mei 2019.
#Day(22)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
dan ujian keimanan itu akan terus berlangsung sepanjang hidup kita
BalasHapus