PUASAMU, NAK. IKATAN UNTUK SYAITHAN
"Ummi.....aku haus ummi, ingin minum....!!!" Teriak najda, anak ke-3 ku itu memang baru tahun ini belajar puasa sampai maghrib. kedua bibirnya yang kering menandakan kejujurannya, ia memang benar-benar memerlukan air minum. kehausan. "Cepat...!!! ambilkan minum untukku. Ambil juga makanan. aku lapar ummi...!!!" teriaknya lagi sambil membentak. Dengan sedikit kepandaianku sebagai seorang ibu, aku gunakan jurus jitu. mengulang perkataannya, lalu mengalihkan perhatiannya. "Oh....betul. kamu haus ya nak?" "iya.sangat haus". "Kamu ingin sekali minum air putih yang menyegarkan mulut dan tenggorokanmu ya?". "iya..." katanya meng-iya-kan. "Sama, ummi juga haus.uuh....segar sepertinya kalau minum air sirup atau susu. Ummi nanti cari ah....sirup rasa strawberry....buah-buahan.....ditambah es batu biar tambah dingin. Sabar ah....nanti dibikinnya pas mau buka. Kalau sekarang mah baru jam dua, nanti es nya keburu mencair jadinya kurang dingin sirupnya. kamu mau sirup atau susu???" "sirup" pilihnya. sekarang dia sudah tidak merengek lagi karena membayangkan apa yang aku ceritakan.
"Tapi ada syaratnya kalau mau sirup buatan ummi". "Apa itu syaratnya mi?" "Kamu harus mau belajar sabar bareng sama ummi, gimana???" " Iya deh". Akhirnya ia setuju meskipun sedikt terpaksa. "Najda...najda, anakku yang shalehah. Kamu memang pandai mengekang syetan dalam dirimu" bisikku. spontan keluar dari mulutku ketika melihat gelagat anak kesayanganku itu. karena kuanggap percakapanku dengannya sudah selesai....aku beranjak pergi ke dapur hendak menyiapkan bahan untuk masak nanti. tapi...
"Ummi, ummi bilang tadi ada syetan dalam diriku???ko begitu ummi??" tanya najda sambil mengernyitkan kening. ia membuntutiku ke dapur. ternyata ia menyimak ucapanku tadi. dan berusaha mencari jawabannya karena penasaran atas apa yang tidak ia mengerti.
Dengan senyum tipis aku membalikkan badan dan berjalan ke arahnya seraya memegang tangan kecilnya. jongkok mensejajarkan posisi badanku dengan badannya. Dengan hati-hati aku mulai menjelaskan. pelan-pelan. Takut salah diartikan. "Begini nak, Allah swt membelenggu syaithan-syaithan selama bulan Ramadhan." "diikat gitu, mi??" "iya". "jadi...mereka gak bisa ganggu kita lagi dong mi??" "iya" jawabku meng-iya-kan sekenanya. "Tapi mi, kalau setannya ga bisa ganggu, kok masih banyak orang berbuat jahat di bulan Ramadhan mi??" duh...pertanyaan yang lebih kritis muncul lagi. " Najda tadi bilang ingin belajar bersabar padahal tadinya najda ingiƱ sekali berteriak-teriak meminta minum sama ummi,kan?" "iya, lalu?" " Lalu, karena kamu sedang puasa, kamu tahan semua keinginanmu itu. berteriak. minum, bahkan menangis dan marah" " Nah...sekarang kamu berhasil menghentikan itu semua bahkan kamu mampu sabar segala menunggu waktu berbuka tiba. jadi...nilai puasamu yang membelenggu syaithan-syaithan itu....jadi syaithannya gak berhasil membuat puasamu batal. begitu, nak" "Oh....jadi begitu ya mi...."
Note : kritik dan saran sangat saya harapkan
Salam Ukhuwah
Amih Shila
Bandung, 21 Mei 2019
#Day(15)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRD
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
"Tapi ada syaratnya kalau mau sirup buatan ummi". "Apa itu syaratnya mi?" "Kamu harus mau belajar sabar bareng sama ummi, gimana???" " Iya deh". Akhirnya ia setuju meskipun sedikt terpaksa. "Najda...najda, anakku yang shalehah. Kamu memang pandai mengekang syetan dalam dirimu" bisikku. spontan keluar dari mulutku ketika melihat gelagat anak kesayanganku itu. karena kuanggap percakapanku dengannya sudah selesai....aku beranjak pergi ke dapur hendak menyiapkan bahan untuk masak nanti. tapi...
"Ummi, ummi bilang tadi ada syetan dalam diriku???ko begitu ummi??" tanya najda sambil mengernyitkan kening. ia membuntutiku ke dapur. ternyata ia menyimak ucapanku tadi. dan berusaha mencari jawabannya karena penasaran atas apa yang tidak ia mengerti.
Dengan senyum tipis aku membalikkan badan dan berjalan ke arahnya seraya memegang tangan kecilnya. jongkok mensejajarkan posisi badanku dengan badannya. Dengan hati-hati aku mulai menjelaskan. pelan-pelan. Takut salah diartikan. "Begini nak, Allah swt membelenggu syaithan-syaithan selama bulan Ramadhan." "diikat gitu, mi??" "iya". "jadi...mereka gak bisa ganggu kita lagi dong mi??" "iya" jawabku meng-iya-kan sekenanya. "Tapi mi, kalau setannya ga bisa ganggu, kok masih banyak orang berbuat jahat di bulan Ramadhan mi??" duh...pertanyaan yang lebih kritis muncul lagi. " Najda tadi bilang ingin belajar bersabar padahal tadinya najda ingiƱ sekali berteriak-teriak meminta minum sama ummi,kan?" "iya, lalu?" " Lalu, karena kamu sedang puasa, kamu tahan semua keinginanmu itu. berteriak. minum, bahkan menangis dan marah" " Nah...sekarang kamu berhasil menghentikan itu semua bahkan kamu mampu sabar segala menunggu waktu berbuka tiba. jadi...nilai puasamu yang membelenggu syaithan-syaithan itu....jadi syaithannya gak berhasil membuat puasamu batal. begitu, nak" "Oh....jadi begitu ya mi...."
Note : kritik dan saran sangat saya harapkan
Salam Ukhuwah
Amih Shila
Bandung, 21 Mei 2019
#Day(15)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRD
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Komentar
Posting Komentar