PERJUANGAN MENUJU SURGA-NYA 3
Halaman yang saya baca menyebutkan, Ternyata tidak hanya wanita hamil dan menyusui yang diwajibkan membayar fidyah, tetapi ada kategori lain yang di sebutkan di lembaran itu. Diantara mereka adalah :
a. Mereka yang sakit dan tidak memiliki kemampuan untuk berpuasa.
b. Mereka yang yang memang menurut thabi'atnya apabila shaum saja, ia dapat sakit.
c. Mereka yang penghidupannya tetap dengan pekerjaan yang berat seperti orang-orang yang bekerja dilombong-lombong (parit) mas, besi, timah, arang, batu dan sebagainya.
Orang-orang tersebut, termasuk orang yang bisa puasa dengan susah payah. Jika mereka tidak mampu puasa, Maka mereka wajib membayar fidyah. Yakni, memberi makan seorang miskin bagi tiap-tiap sehari, kalau ia tidak puasa dua hari, wajib ia beri makanan dua orang miskin, dan begitulah seterusnya, dan orang yang bayar fidyah itu, tidak wajib qadla lagi.
Saya termenung sesaat. Menyelami apa maksud dari tulisan tersebut. "Jadi, mau bagaimana?" Suara suami membuyarkan lamunan. "Jika memang terasa payah menjalankan puasa. Ayo kita bayar fidyah. Kita cari orang yang terkategori miskin di sekitar kita, biar penyalurannya benar ( Karena kategori penerima fidyah memang tidak sama seperti penerima zakat ya).
Hm....mendengar tawaran seperti itu, saya menjadi berasa malu. karena, sebenarnya hanya pikiranku saja yang memiliki kecemasan berlebih. Masalah kesehatan tidak payah sedikitpun. jadi, "Saya mencoba memaksimkan ikhtiar menjemput ridha-Nya. Dan ternyata jika kepayahan terasa saat menjalankan puasa, saya akan menuju surga-Nya dengan kewajiban berfidyah".
Bibir suami mekar mendengar ucapan saya barusan. Seperti tengah merasakan sebuah kepuasan. Melihat senyuman itu, Saya pun ikut tersenyum. Lega....
"Saya ingin kebersamaan kita tidak hanya sekedar di dunia saja, tapi juga bersama di surga-Nya...." ujar suami penuh harap, sambil mendekat ke arah saya. " Jadi, belajarlah ridha dengan setiap ajakan baik suamimu ini. Meski pahit dirasa namun berakhir dengan senyuman bahagia" lanjutnya, sambil mengusap bahuku. Oh...hati yang panas tiba-tiba serasa sejuk. Rasanya, kerelaan telah memenuhi relung jiwa ini. Terpesona memiliki suami yang siap mengantar dan membawa pasangan hidup hingga ke surga-Nya....saya menatap dengan senyuman penuh keikhlasan. seakan bibir ini tak mampu mengucapkan beribu kekaguman yang menjejali benak ini. "Terima kasih..."saya ucapkan kata itu. lirih. Entah terdengar olehnya ataukah tidak. Tak apa, karena ucapan terimakasih itu akan siap saya ucapkan melalui ketaatan sebagai seorang istri yang patuh bagi dirinya.
Jika mengingat pengalaman ini, saya jadi membayangkan. Bagaimana hal nya dengan para shahabiah terdahulu, para istri Rasul dulu, pernahkah mengalami kegundahan disaat mereka menjalankan kewajiban?? Ah...rasanya tidak mungkin. Kejadian Ini hanya menggambarkan tipisnya keimanan saya. Sementara kualitas keimanan mereka sangatlah kokoh. Rasanya tidak mungkin mereka meragukan aturan yang telah Allah swt. berikan. Mereka bahkan berhasil mendampingi suaminya hingga ke tempat yang paling mempesona bernama SURGA.
Semoga saja, kejadian ini menjadikan pemicu semangat untuk terus meningkatkan kualitas ilmu dan amalan dan juga keimanan. Dan setelah kejadian ini, semoga saya bisa beramal dengan penuh kesadaran akan benarnya ajaran yang telah Allah perintahkan. Hilang ragu karena berilmu. Aamiin.
Note : kritik dan saran sangat saya harapkan.
Salam ukhuwah,
Amih Shila
Bandung, 31 Mei 2019
#Day(25)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
a. Mereka yang sakit dan tidak memiliki kemampuan untuk berpuasa.
b. Mereka yang yang memang menurut thabi'atnya apabila shaum saja, ia dapat sakit.
c. Mereka yang penghidupannya tetap dengan pekerjaan yang berat seperti orang-orang yang bekerja dilombong-lombong (parit) mas, besi, timah, arang, batu dan sebagainya.
Orang-orang tersebut, termasuk orang yang bisa puasa dengan susah payah. Jika mereka tidak mampu puasa, Maka mereka wajib membayar fidyah. Yakni, memberi makan seorang miskin bagi tiap-tiap sehari, kalau ia tidak puasa dua hari, wajib ia beri makanan dua orang miskin, dan begitulah seterusnya, dan orang yang bayar fidyah itu, tidak wajib qadla lagi.
Saya termenung sesaat. Menyelami apa maksud dari tulisan tersebut. "Jadi, mau bagaimana?" Suara suami membuyarkan lamunan. "Jika memang terasa payah menjalankan puasa. Ayo kita bayar fidyah. Kita cari orang yang terkategori miskin di sekitar kita, biar penyalurannya benar ( Karena kategori penerima fidyah memang tidak sama seperti penerima zakat ya).
Hm....mendengar tawaran seperti itu, saya menjadi berasa malu. karena, sebenarnya hanya pikiranku saja yang memiliki kecemasan berlebih. Masalah kesehatan tidak payah sedikitpun. jadi, "Saya mencoba memaksimkan ikhtiar menjemput ridha-Nya. Dan ternyata jika kepayahan terasa saat menjalankan puasa, saya akan menuju surga-Nya dengan kewajiban berfidyah".
Bibir suami mekar mendengar ucapan saya barusan. Seperti tengah merasakan sebuah kepuasan. Melihat senyuman itu, Saya pun ikut tersenyum. Lega....
"Saya ingin kebersamaan kita tidak hanya sekedar di dunia saja, tapi juga bersama di surga-Nya...." ujar suami penuh harap, sambil mendekat ke arah saya. " Jadi, belajarlah ridha dengan setiap ajakan baik suamimu ini. Meski pahit dirasa namun berakhir dengan senyuman bahagia" lanjutnya, sambil mengusap bahuku. Oh...hati yang panas tiba-tiba serasa sejuk. Rasanya, kerelaan telah memenuhi relung jiwa ini. Terpesona memiliki suami yang siap mengantar dan membawa pasangan hidup hingga ke surga-Nya....saya menatap dengan senyuman penuh keikhlasan. seakan bibir ini tak mampu mengucapkan beribu kekaguman yang menjejali benak ini. "Terima kasih..."saya ucapkan kata itu. lirih. Entah terdengar olehnya ataukah tidak. Tak apa, karena ucapan terimakasih itu akan siap saya ucapkan melalui ketaatan sebagai seorang istri yang patuh bagi dirinya.
Jika mengingat pengalaman ini, saya jadi membayangkan. Bagaimana hal nya dengan para shahabiah terdahulu, para istri Rasul dulu, pernahkah mengalami kegundahan disaat mereka menjalankan kewajiban?? Ah...rasanya tidak mungkin. Kejadian Ini hanya menggambarkan tipisnya keimanan saya. Sementara kualitas keimanan mereka sangatlah kokoh. Rasanya tidak mungkin mereka meragukan aturan yang telah Allah swt. berikan. Mereka bahkan berhasil mendampingi suaminya hingga ke tempat yang paling mempesona bernama SURGA.
Semoga saja, kejadian ini menjadikan pemicu semangat untuk terus meningkatkan kualitas ilmu dan amalan dan juga keimanan. Dan setelah kejadian ini, semoga saya bisa beramal dengan penuh kesadaran akan benarnya ajaran yang telah Allah perintahkan. Hilang ragu karena berilmu. Aamiin.
Note : kritik dan saran sangat saya harapkan.
Salam ukhuwah,
Amih Shila
Bandung, 31 Mei 2019
#Day(25)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Komentar
Posting Komentar