PERJUANGAN MENEMPUH SURGA-NYA

Gelisah, Gundah, Hal itu yang ada dalam diri. Ketika suami, (sebagai imamku yang siap membimbingku ke jalan-Nya) mengajak bersama menunaikan ibadah puasa. Tentu bahagia baginya bisa bersama menunaikan kewajiban dengan kekasih dambaan yang baru saja menjadi pendamping hidupnya. Tapi tidak demikian dengan saya, istrinya yang tengah mengandung anak pertamanya. Rasanya sulit untuk diungkapkan kegalauan di hati. Perasaan senang, karena memiliki seorang suami yang taat dalam beribadah dan juga siap menuntun langkah saya untuk sampai pada keridhaan-Nya. Dan rasa gembira akan kehamilan ini malah mengundang gelisah tersendiri bila seandainya saya berpuasa dalam kondisi sedang mengandung janin. Tidak bermaksud menghindar dari ajakannya (suami), pun tidak berniat untuk melanggar perintah-Nya. Akan tetapi.....berilah sedikit ruang untuk memahami ke khawatiran ini! kekhawatiran terhadap janinku, kesehatannya, tumbuh kembangannya, dan juga kelelahan saya, sebagai ibunya! saya berkeluh...

Setidaknya hal itu yang saya rasakan waktu itu. Baiklah....saya akan mencoba mengkomunikasikan hal ini kepada suamiku, harus. Dengan rasa canggung, karena usia pernikahan kami baru terhitung kurang lebih setengah tahun waktu itu, Saya belum begitu mengenal karakternya. Dengan sedikit keberanian, akhirnya saya bisa mengeluarkan kata-kata. "Begini lho a (Sunda=kaka), saya mengerti dan berterima kasih telah mengingatkan saya akan sebuah kewajiban. Tapi, bukannya Agama Islam telah memberi rukhsoh ( Keringanan ) bagi orang yang sedang mengandung???" tanyaku hati-hati, takut menyinggung perasaannya.

"Baiklah, saya juga mengerti kondisimu. Dan tahu apa maksudmu. kemaren kan sudah di cek ke bidan, kondisi janin dan kesehatanmu baik" jawabnya memutus kalimat yang belum sempurna saya utarakan karena sinyal yang saya berikan telah ditangkapnya dengan cepat. "Iya sih....tapi saya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya" timpalku menyimpulkan beribu ketakutan yang tak dapat kuuraikan satu persatu. Sambil membujuk agar ia mengerti betapa besar kecemasan saya saat itu. " Oke, setelah besok kamu berpuasa, kita periksakan terus kondisi janinnya". katanya berusaha menenangkan. meski begitu, saya tetap saja resah.

Satu minggu saya menjalankan puasa, kami pergi ke bidan hendak memeriksa kesehatan janin. Seperti kata janjinya. Setelah selesai, saya menanyakan hasil pemeriksaan kepada bidan, " Bagaimana hasil pemeriksaannya bu bidan?" saya bertanya tergesa, tak sabar ingin segera mendapatkan jawaban. "Ibu sedang puasa sekaraƱg?" bidan itu balik bertanya "iya" saya jawab sambil mengangguk dan sedikit takut. Kalau-kalau kondisi janin kurang baik, bisa di'omelin' nanti. "Kondisi ibu dan janin alhamdulillah baik". lanjutnya sambil tersenyum ramah. "Alhamdulillah..." Ucap saya dan suami. Berbarengan. kompak. Senyuman kecil suami seperti menggembirakan akan sebuah kemenangan, terasa seolah mengejek perasaan takut saya yang kalah dengan fakta yang baru saja kami terima. Euh....sedikit kesal.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, kami tak saling berbicara. Tak tahu harus bilang apa. Semua sudah jelas hasilnya. Tak perlu ada kekhawatiran lagi. Hari berikutnya saya kembali berpuasa. Masih sama seperti sebelumnya, amalan puasa saya disertai kekhawatiran dan terkesan penuh ragu. Tidaknyaman memang jika ibadah dilakukan dengan setengah hati. Takut tidak sampai pada apa yang dimaksudkan dari ibadah itu. Takut tidak ternilai sebagai amal shaleh. Seiring bertambahnya usia kehamilan, Rasa cemas terus saja menghantui. Lagi, saya bertanya, kali ini kepada guru yang sangat akrab dengan saya, guru yang sudah mengalami hal serupa dengan perkara yang sedang saya alami. "Jadi, begini ustadzah saya....bla la bla..." saya jelaskan panjang lebar tentang semua kecemasan saya. Dengan harapan perasaan sara diakui. "Agama Islam dengan hukumnya sangat memperhatikan umatnya, seperti apa yang sedang ibu alami, perasaan takut dan lelah dalam menghadapi situasi yang baru, seperti yang ibu ceritakan tadi. Islam bahkan lebih memahami dengan memberikan sebuah solusi". Jawaban Ustadzah sangat memihak pada kecemasan saya, tapi...Ustadzah kemudian melanjutkan....BERSAMBUNG....

#Day(23)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESEDERHANAAN KHALIFAH UMAR

PEMBATAL PUASA:MITOS/FAKTA??

PUASA=UJIAN KEIMANAN